MAKANAN SEBAGAI OBAT
by pakar emas 0
Sejak zaman purba sudah diketahui, bahwa soal makanan tidak hanya Sebagai pasokan energi dan untuk pembangun tubuh manusia saja, I eta pi terlebih penting lagi juga Sebagai penyeimbang tubuh ilu sendiri. Nenek moyang kita mengajarkan makan minum li.inya secukupnya saja, agar ketahanan tubuh tetap berim- king dan selaras dengan alam.
Pepatah Jawa Kuno mengatakan dalam hidup meng- Ktinakan semboyan sederhana 3S: sak madyo, sak perlune, sak cukupe. Artinya tidak berlebihan, sesuai kebutuhan dan secukupnya saja. Mereka mengajarkan dalam hidup sehari-hari, termasuk dalam hal makan supaya tidak serakah dan berlebihan. Ajaran pola hidup sederhana sebetulnya adalah warisan leluhur kita sejak zaman dulu.
Namun dalam kenyataan hidup sekarang, yang terjadi adalah kebalikan dari semua itu. Orang jadi serakah dan menyikat apa saja yang ada di bumi, tanpa memperdulikan keseimbangan alam. Demikian juga dalam hal makan Sebagian besar orang melupakan ajaran 3S tadi. Akibatnya terjadilah obesitas (kegemukan) dan timbulnya berbagai penyakit yang menyerang tubuh manusia, seperti misalnya tekanan darah tinggi, jantung koroner, stroke, gagal ginjal dan lain-lain.
Pada masa raja-raja Tiongkok kuno berkuasa, ter- utama pada masa Dinasti Ming, sudah disadari makanan yang masuk ke tubuh juga merupakan obat bagi tubuh. Mereka selalu mencari kepala juru masak istana yang punya pengetahuan luas tentang makanan yang berkhasiat Sebagai kekuatan tubuh sehingga tidak mudah terserang penyakit. Bahkan bagi tubuh yang telah terserang penyakit pun malah bisa sembuh. Untuk mencari kepala juru masak istana, saat itu sampai dilakukan dengan sistem sayembara guna menyaring siapa yang paling the best.
Demikian juga pada zaman Romawi juga sudah di- sadari akan hal itu. Julius Ceasar selalu meriginstruksikan para pasukan pilihan Romawi yang akan bertempur diberi pasokan makanan yang banyak mengandung bawang putih dan biji-bijian sehingga mereka jadi lincah dan kuat ketika bertempur, serta tidak mudah lelah.
Bangsa Yunani kuno, dua puluh lima abad yang 1ampau sudah menyadari bahwa makanan yang berkualitas dan baik, bila dikonsumsi secara seimbang, akan menjadi obat bagi manusia sehingga hidupnya jadi sehat. Hippocrates yang dikenal Sebagai bapak kedokteran, yang hidup dimasa Ialuin 470-410 sebelum masehi dengan tegas mengatakan: "Biarlah makanan menjadi obat bagimu (Let food be they medicine)," katanya.
Hal yang sama juga terjadi pada para pelaut ulung sejak zaman sebelum masa Columbus, terutama para pelautdari Eropa dan Hindia Belakang yang melanglang buana selaIu dianjurkan banyak mengonsumsi jeruk yang terbukti kaya kandungan vitamin C-nya dan anti scurvy yang bisa memlniat ketahanan tubuh jadi kuat, tidak mudah terserang penyakit.
Dari semua fakta itu, terbuktilah, makanan memang dibutuhkan manusia, untuk membangun, mempertahankan bentuk, dan mengatur metabolisme. Disamping itu, juga untuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, memperkuat ketahanan tubuh terhadap penyakit, menjaga suhu tubuh, serta menyediakan tenaga atau energi untuk menggerak- kan otot. Oleh karena itu setiap orang, seperti juga makhluk hidup lainnya membutuhkan bahan makanan berkualitas, yang sangat berguna untuk kehidupannya.
Dalam buku Planten van Java memuat keanekaragaman tanaman bumi Nusantara yang juga berkhasiat Sebagai obat dan makanan. Bila dieksplorasi, sangat berguna bagi kesehatan bangsa kita. Indonesia juga kaya raya dengan flora dan fauna. Berlimpah dengan buah-buahan dan sayur-sayuran, yang bila dikonsumsi akan menghasilkan kekuatan dan daya tahan bagi tubuh kita.
Berbagai zat yang terkandung dalam buah dan sayur dapat mengubah sel-sel tubuh menjadi kuat untuk melawan proses penuaan dini. Makan buah dan sayur lima porsi dalam sehari, bisa menghindarkan berbagai macam penyakit dalam, seperti penyakit jantung, darah tinggi, stroke,kanker, leukemia, gagal ginjal, sembelit dan berbagai penyakit degeneratif lainnya.
Menurut penelitian, kandungan serat dan berbagai antioksidan dalam buah-buahan dan sayur-sayuran bisa membuat tubuh menjadi sehat, bugar, dan terhindar dari ber-bagai jenis penyakit. Namun data statistik tentang konsumsi pangan di negeri kita menunjukkan, masyarakat Indonesia kurang dalam mengonsumsi serat, meski buah-buahan dan sayuran berlimpah di negeri ini. Tragis memang. Hal itu menunjukkan, bangsa kita banyak yang belum paham lentang pola makan seimbang yang berpengaruh terhadap kesehatan.
Padahal leluhur kita telah mengajarkan, cara me-in.infaatkan aneka macam tumbuhan dari negeri sendiri, yang sangat berguna bagi makanan yang sehat dan sekaligus Sebagai obat. Memang sekarang sudah ada gerakan kembali ke alam, dengan banyak memanfaatkan makanan obat-obatan herbal Sebagai makanan suplemen, namun jumlahnya belum banyak.
Mereka sudah mengetahui rahasia sehat di balik iumhuh-tumbuhan, seperti buah mengkudu, seledri, teh
hijau, madu, daun Jati Belanda, temulawak, kunyit, jahe, Asam Jawa dan lain-lain. Meski mereka belum memahami sepenuhnya referensi ilmiah tentang kandungan zat dalam suatu bahan makanan tersebut, setidaknya mereka sudah tahu, khasiat pengobatan herbal warisan nenek moyang kita yang lebih dikenal dengan istilah jamu. Mereka tahu karena kebiasaan sehari-hari, misalnya, kunyit ternyata banyak mengandung antibiotik alami sehingga bila ada anggota keluarga yang terserang diare, diminumi perasan kunyit, madu dan garam sedikit, bisa sehat kembali.
Dari berbagai uraian di atas, jelaslah, minuman dan makanan yang masuk ke tubuh kita, tidak hanya berfungsi Sebagai bahan makanan saja guna mempertahankan hidup, tetapi juga sekaligus berfungsi Sebagai obat. Oleh karena itu, kita harus waspada dalam menyantap makanan sehari-hari. Harus selalu ingat pesan bapak kedokteran Hippocrates: "Biarlah makanan menjadi obat bagimu". Jangan sebaliknya.