Siapa saja yang berisiko terkena osteoporosis?

by 0

Osteoporosis dapat menyerang setiap orang dt» ngan faktor risiko yang berbeda. Faktor risik memang harus diketahui agar terhindar dari 01 teoporosis dan secara dini melakukan pencegahan atau pengobatan.

Faktor risiko osteoporosis dikelompokkan menjadi dua, yaitu yang tidak dapat dikendalikan dan yang dapat dikendalikan.
Berikut ini faktor risiko osteoporosis yang tidak dapat dikendalikan:

  • Jenis kelamin. Kaum wanita mempunyai faktor risiko terkena osteoporosis lebih besar dibanding kaum pria. Menurut data penelitian, sekitar 80% penderita osteoporosis adalah wanita. Dari hasil pene¬litian diketahui pula bahwa satu dari tiga wanita cenderung menderita osteoporosis. Sedangkan pada pria, kecenderungan menderita osteoporosis adalah satu dari lima sampai tujuh pria. Penyebabnya adalah massa tulang wanita 4 kali lebih kecil dibanding massa tulang pria. Nilai massa tulang wanita umumnya adalah 800 gram dibanding dengan massa tulang pria yang umumnya 1.200 gram. Karena itu, kehilangan massa tulang yang diikuti dengan kerapuhan tulang juga terjadi lebih sering pada wanita.
  • Usia. Semakin tua usia, risiko terkena osteoporosis semakin besar karena secara alamiah tulang semakin rapuh sejalan dengan bertambahnya usia. Risiko terjatuh dan patah tulang pun bertambah disebab¬kan faktor kesehatan lansia seperti gangguan peng- Iihatan, gangguan pendengaran, gangguan pada ke- seimbangan tubuh, otot yang semakin lemah dll. Selain itu perlu diingat, bahwa proses kepadatan tulang hanya berlangsung sampai usia 25—30 tahun yang disebut massa tulang puncak (peak bone mass). Setelah itu kondisi tulang akan konstan sampai mencapai usia 40-an. Lalu densitas tulang pun mulai berkurang seiring dengan berkurangnya produksi hormon estrogen karena proses penuaan. Ini terjadi sepanjang sisa usia. Dengan demikian, osteoporosis pada usia lanjut terjadi karena berkurangnya massa tulang yang juga disebabkan menurunnya kemampuan tubuh untuk menyerap kalsium.
  • Ras. Semakin terang kulit seseorang, semakin tinggi risiko terkena osteoporosis. Karena itu, ras Eropa utara (Swedia, Norwegia, Denmark) dan Asia berisiko lebih t inggi terkena osteoporosis dibanding ras Afrika hitam.Dengan kata lain, ras Afrika memiliki massa tulang lebih padat dibanding ras kulit putih dari Eropa. Hal yang sama tampak pada ras campuran Afrika—Amerika. Mereka memiliki tulang yang lebih padat dibanding ras kulit putih Amerika. Mereka juga mempunyai otot yang lebih besar sehingga tekanan pada tulang pun besar. Ditambah dengan kadar hormon estrogen yang lebih tinggi pada ras Afrika—Amerika, maka wanita ras Afrika—Amerika cenderung lebih lambat menj-'di tua dibanding ras kulit putih Amerika. 
  • Pigmentasi dan tempat tinggal. Mereka yang ber- kulit gelap dan tinggal di wilayah khatulistiwa, mempunyai risiko terkena osteoporosis yang lebih rendah dibanding dengan ras kulit putih yang tinggal di wilayah kutub seperti Norwegia dan Swedia.
  • Riwayat keluarga. Jika ada nenek atau ibu yang mengalami osteoporosis atau mempunyai massa tulang yang rendah, maka keturunannya cenderung berisiko tinggi terkena osteoporosis.
  • Sosok tubuh. Semakin mungil seseorang, semakin berisiko tinggi terkena osteoporosis. Demikian juga seseorang yang memiliki tubuh kurus lebih berisiko terkena osteoporosis dibanding yang bertubuh besar.
  • Menopause. Wanita pada masa menopause kehi¬langan hormon estrogen karena tubuh tidak lagi memproduksinya. Padahal hormon estrogen dibu-tuhkan untuk pembentukan tulang dan memper-tahankan massa tulang. Semakin rendahnya hormon estrogen seiring dengan bertambahnya usia, akan semakin berkurang kepadatan tulang sehingga terjadi pengeroposan tulang, dan tulang mudah patah. Menopause dini bisa terjadi jika pengangkatan ovarium terpaksa dilakukan disebabkan adanya penyakit kandungan seperti kanker, miom, dan lainnya. Menopause dini juga berakibat meningkatnya risiko terkena osteoporosis.
Berikut ini faktor-faktor risiko osteoporosis yang dapat dikendalikan. Faktor-faktor ini biasanya berhubungan dengan kebiasaan dan pola hidup, seharusnya bisa dikendalikan dengan baik agar di hari tua tidak mengalami penderitaan karena osteoporosis.
  • Aktivitas fisik. Seseorang yang kurang gerak, kurang beraktivitas, otot-ototnya tidak terlatih dan menjadi Vendor. Otot yang kendor akan mempercepat menurunnya kekuatan tulang. Akibatnya massa tulang puncak tidak tercapai pada usia 25 tahun sebagaimana seharusnya sehingga orang yang bersangkutan akan dapat mengalami pengeroposan tulang yang menjurus menjadi osteoporosis. Untuk menghindarinya,dianjurkan melakukan olahraga teratur minimal tiga kali dalam seminggu (lebih baik dengan beban untuk membentuk dan memperkuat tulang). Para lansia pun tetap dianjurkan aktif dan berolahraga teratur sesuai dengan kondisi tubuhnya. Tanpa latihan/aktivitas fisik, otot akan melemah dengan cepat, dan ini meningkatkan risiko jatuh dan patah tulang. pola makan. Menu makanan sehari-hari harus mengandung unsur gizi yang dibutuhkan tubuh untuk membangun dan memperkuat tulang, yaitu mengandung protein, kalsium, fosfor, dan vitamin D. Sebaik- nya pola makan ini sudah dipraktikkan sejak kanak- kanak, agar tercapai massa tulang puncak pada usia 25 tahun.
  • Merokok. Para perokok berisiko terkena osteoporosis lebih besar dibanding bukan perokok. Telah diketahu i bahwa wanita perokok mempunyai kadar estrogen lebih rendah dan mengalami masa menopause 5 l.ihtin lebih cepat dibanding wanita bukan perokok. demikian, wanita perokok lebih cepat pula kehilangan massa tulangnya. Tidak hanya merokok, asap rokok pun (yang dialami perokok pasif) dapat menghambat kerja ovarium dalam memproduksi estrogen. Nikotin yang terkandung dalam rokok berpengaruh buruk pada tubuh dalam hal penyerapan dan penggunaan kalsium. Namun, secaraumum, merokok menghambat kerja osteoblas sehingga terjadi ketidakseimbangan antara kerja osteoklas dan osteoblas. Osteoklas lebih dominan. Akibatnya, pengeroposan tulang/osteopo- rosis terjadi lebih cepat.
  • Minuman keras/beralkohol. Ini berlaku bagi para pecandu minuman keras (alcoholic) atau mereka yang minum lebih dari dua gelas per hari. Minum minuman keras berlebihan akan mengganggu kesehatan tubuh secara keseluruhan, khususnya proses metabolisme kalsium. Alkohol berlebihan dapat menyebabkan luka-luka kecil pada dinding lambung. Dan ini menyebabkan perdarahan yang membuat tubuh kehilangan kalsium (yang ada dalam darah) yang dapat menurunkan massa tulang dan pada gilirannya menyebabkan osteoporosis.
  • Stres. Kondisi stres akan meningkatkan produksi hormon stres yaitu kortisol yang diproduksi oleh kelenjar adrenal. Banyak orang sekarang mengalami stres karena tuntutan pekerjaan maupun kondisi ling- kungan dan kehidupannya, dan ini memicu banyak hal yang sifatnya negatif seperti daya tahan tubuh menurun sehingga mudah kena infeksi, obesitas, gangguan daya ingat/intelektual, tekanan darah tinggi, diabetes, stroke, penyakit jantung, juga osteoporosis Kadar hormon kortisol yang tinggi akan mengakibatkan pelepasan kalsium ke dalam peredaran darah. Pelepasan kalsium dalam kadar tinggi akan menyebabkan tulang menjadi rapuh dan keropos se- hingga meningkatkan risiko osteoporosis. Di sisi lain, meningkatnya hormon kortisol berpengaruh menekan hormon DHEA dan progesteron, juga menekan hormon tiroid. Padahal hormon-hormon tersebut penting  dalam proses metabolisme tulang. Karena itu dapat dimengerti jika metabolisme tulang menurun dan terjadi gangguan dalam pembentukan tulang v.ing bisa berakibat tulang rapuh dan mudah keropos.Ini jelas meningkatkan risiko terkena osteoporosis. Sebagaimana telah diketahui secara umum bahwa stres meningkatkan kadar hormon adrenalin. Kadar adrenalin yang berlebihan menyebabkan terbuangnya mineral magnesium dari sel melalui urine. Kekurangan magnesium menyebabkan tulang mudah keropos. Hahan kimia. Polusi bahan kimia diketahui berdampak negatif bagi kesehatan tubuh termasuk tulang. Bahan kimia seperti pestisida yang dapat ditemukan dalam bahan makanan (sayuran dan buah-buahan), asap bahan bakar kendaraan bermotor, dan limbah industri seperti organoklorida yang dibuang sembarangan di sungai dan tanah, dapat merusak sel-sel tubuh termasuk tulang. Ini membuat daya tahan tubuh menurun dan membuat pengeroposan tulang.

Leave a Reply