Bagaimana mengatasi rasa nyeri pada osteoporosis?
by pakar emas 0
Sebenarnya osteoporosis tidak menimbulkan rasa nyeri sehingga umumnya penderita tidak mengetahui bahwa dirinya terserang osteoporosis. Rasa nyeri baru muncul jika terjadi patah tulang. Patah tulang panggul dan pergelangan tangan menimbulkan rasa nyeri yang hebat. Demikian juga trauma yang sangat kecil pada tulang iga. Sedangkan nyeri akibat patah tulang punggung tidaklah seberapa, namun berakibat tinggi tubuh berkurang karena menjadi bungkuk.
Untuk diketahui, nyeri tulang bukan hanya disebabkan fraktur, tetapi juga Sebagai akibat kerusakan tulang atau kekakuan otot. Ini menyebabkan rasa nyeri yang kronis.
Penanganan rasa nyeri patah tulang osteoporosis tidak banyak berbeda dengan patah tulang pada orang tanpa osteoporosis. Namun perlu diingat:
- Patah tulang osteoporosis biasanya terjadi pada lansia yang juga ada tulang lain yang keropos yang bisa mengalami fraktur.
- Pada lansia kemungkinan besar ada penyakit-penyakit lain yang diidapnya.
Biaya pengobatan pun mahal.
- Kelompok parasetamol. Mengatasi rasa nyeri, bisa dengan obat-obatan parasetamol yang dapat dibeli bebas di apotik dengan nama dagang Panadol, Biogesic, atau Dumin. Obat golongan ini mudah diserap usus dan tidak terlalu merangsang lambung namun bisa menimbulkan gangguan fungsi hati, menimbulkan alergi, dan bercak pada kulit, dan kemungkinan terjadi perdarahan.
- Antiinflamasi non-steroid. Meskipun dapat meredakan rasa nyeri, namun parasetamol tidak dapat menyembuhkan radang/inflamasi. Untuk itu diperlukan obat-obatan antiinflamasi nonsteroid (nonsteroid anti-inflammatory drugs disingkat NSAID). Obat-obatan golongan ini selain mampu meredakan nyeri juga memerangi radang. NSAID tidak mengandung streroid dan narkotik, kerjanya menghambat enzim cyclooxygenase (COX). Contoh NSAID: aspirin, phenyl-butazone, naproxen, ibuprofen, diclofenac, piroxicam, tenoxicam, celecoxib, lumiracoxib.
- Golongan narkotika. Obat antinyeri bisa digabungkan dengan narkotika untuk menambah kekuatan antisakitnya. Contohnya codein. Obat-obat semacam ini harus di bawah pengawasan dokter, karena itu hanya dapat dibeli dengan resep dokter. Bisa terjadi efek samping, seperti sesak napas, ruam kulit, sulit BAB. Jika mengalami efek samping tersebut, penderita harus melapor ke dokter. Perlu diketahui, bahwa pemakaian dalam jangka panjang dapat menimbulkan adiksi atau ketagihan.