Lebah dalam Perspektif Al-Qur’an

by 0

Binatang kecil bersayap yang memiliki sengat dan mampu menghasilkan madu ini dijadikan salah satu dari nama surah dalam kitab suci Al-Qur'an, yaitu surah An-Nahl [16] (Surat Lebah). Dalam tertib mushaf Al-Qur'an, surah An-Nahl berada pada urutan ke-16 dengan jumlah ayat 128. Diabadikan lebah (An-Nahl) Sebagai salah satu dari nama surah Al-Qur'an karena di dalamnya Allah Swt. berfirman mengenai keberadaan dan manfaat yang dimilikinya: Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: 'Buatlah sarang di bukit-bukit, dipepohonan, dan di tempat yang dibikin manusia.”' (Q.S. An-Nahl [16]: 68).
Sebagaimana yang jamak diketahui dan dipahami kalangan mufassirun (penafsir Al-Qur'an) bahwa ketika Allah Swt. menyebut- nyebut nama sesuatu dalam firman-Nya, tentunya sesuatu yang disebut tersebut memiliki keistimewaan dan ada hikmah besar yang terkandung di dalamnya. Atau, ia menjadi ibrah (pelajaran) yang mesti diambii oleh para pembaca dan pengkaji Al-Qur'an. Bukankah Allah Swt. tidak menciptakan segala sesuatunya dengan bathil (sia-sia)? Apalagi, jika yang Dia ciptakan tersebut lantas disinggung dalam firman-firman-Nya.

Lebih detail, Syaikh Ahmad bin Asymuni dalam kitab AI-'Aslu: Fi Bayani al-'Asali fi al-Qur'an wa al-Hadits wa fi al-Thibbi wa al- Adillatial-'llmiyyah, menganalisis lebah dari sisi bahasa. Dalam karyanya, ia menuliskan bahwa dalam kamus Lisan al-'Arab disebutkan, lebah adalah lalat yang mempunyai madu, bentuk mufrad-nya adalah nahlah. Dengan begitu, nahl adalah lebah madu dan bentuk mufrad-nya adalah nahlah.

Abu Ishaq Al-Zujaj pernah menafsirkan bahwa dinamakan nahl karena Allah Swt. memberi madu yang keluar dari perut lebah kepada manusia. Sementara di pihak lain, orang Arab mengatakan bahwa al-nahl bisa di-mudzakar-kari dan bisa 'di muannats-kan. Orang yang me-mudzakkar-kan lafaz nahl karena bentuk lahirnya mudzakkar, dan orang yang me- mur/nnafs-kannya karena nahl bentuk jamaknya adalah nahlah.
dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar disebutkan, “perumpamaan orang yang beriman adalah seperti lebah, dia tidak makan kecuali yang baik-baik dan mengambil yang baik- baik pula. Sisi kesamaan antara keduanya adalah kecerdasan dan kepandaiannya, tidak menyakiti kecuali dalam keadaan bahaya, kerendahhatian, bermanfaat bagi makhluk lain, dan mudah menerima (tidak rakus). Dia berjalan pada siang hari, membersihkan diri dari kotoran dan memakan yang baik-baik. Lebah  lidak makan dari hasil usaha lebah yang lain serta ketaatan dan ketundukan terhadap pemimpin."

Dalam hal ini, meskipun tampak seperti binatang yang kecil dan remeh, manusia harus mampu menguak tabir di balik yang difirmankan Allah Swt. tentang lebah. Bukankah sudah seharusnya para pembaca dan pengkaji Al-Qur'an untuk tidak berhenti hanya sebatas membaca teks? Kita semua, terutama kaum muslimin, harus berani melakukan sesuatu dan mencari tahu sekaligus membuktikan kedalaman makna dari yang kindling dalam Al-Qur'an, tak terkecuali tentang binatang kecil satu ini, lebah.

Leave a Reply